Kamis, 24 Mei 2018

10 Etika Bermedia Sosial Dalam Islam

Era modern tanpa batas membuat setiap orang mudah terhubung satu sama lain. Namun di sisi lain, banyak kejelekan di balik kemajuan tersebut. Islam sebagai agama akhir zaman selalu menuntun manusia pada kebaikan, pun dalam aktivitas media sosial.
Ada etika yang harus diperhatikan ketika bermedsos ria. Pasalnya, bermain media sosial ibarat menghunus sebuah pedang. Jika salah mengayunkannya, maka kita sendiri yang akan tertebas. Sedikitnya ada 10 etika yang mesti diperhatikan agar tak salah langkah dalam menjelajah akses internet yang canggih tersebut.
1.Muraqabah
Etika pertama yakni merasa selalu diawasi oleh Allah. Apapun yang kita posting, termasuk niat dibalik postingan tersebut, sadarilah selalu bahwa semua itu diketahui oleh Sang Maha Tahu. Dengan selalu merasa diawasi Allah, maka pastilah kita takut melanggar batasan-batasan agama dalam memanfaatkan medsos.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Jika kamu menampakkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 54).
2.Hisab
Ingatlah selalu bahwa ada hisab atau perhitungan atas setiap apa yang kita lakukan, meski seberat dzarrah. Setiap kalimat, foto, video yang kita unggah, akan dipertanyakan kelak di akhirat. Allah berfirman, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).
3.Istifadah
Yakni menggunakan sarana yang ada untuk diambil manfaatnya. Jika media sosial bermanfaat bagi kehidupan kita, maka tak ada salahnya untuk memanfaatkannya. Namun jika medsos justru membawa lebih banyak kerugian daripada manfaatnya, maka etika seorang muslim pastilah menghentikan aktivitas tersebut.
Rasulullah bersabda, “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At Tirmidzi).
4.Bertanggung jawab
Menggunakan medsos berarti kita bertanggung jawab atas semua yang diposting ke publik, termasuk saat follow, share, Iike, retweet, repost, comment dan lain sebagainya. Seorang muslim beretika baik akan berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu atau menanggapi sesuatu. “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)
5.Menjaga batasan pergaulan
Batasan ini terkhusus pada hubungan antara pria dan wanita. Meski tidak bertatapan langsung, medsos mampu membawa jerat-jerat penyakit hati di setiap interaksi lawan jenis. Maka batasilah interaksi dengan lawan jenis yang bukan mahram dan yang tak ada keperluan penting dengannya.
6.Memperhatikan pertemanan
Berteman di medsos mestilah mempertimbangkan kebaikan dengan timbangan ilmu syar’i. Jangan Bermudah-mudahan mengikuti status seseorang yang tak jelas kebaikannya. Ibnu Mas’ud pernah memberikan nasihat, “Jika engkau sekedar menjadi pengikut kebaikan, maka itu lebih baik daripada engkau menjadi panutan dalam kejelekan.” (Kitab Al Ibanah).
7.Wasilah
Etika muslim berikutnya yakni menjadikan medsos sebagai penghantar atau sarana atau wasilah kepada kebaikan. Artinya, manfaatkanlah medsos untuk menebar kebaikan. Sebagai contoh, memposting ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, kata mutiara para shahabat Rasulullah, permasalahan agama dan lain sebagainya.
8.Tidak lalai
Inilah yang sering luput jika sudah asyik bermain medsos. Kita mudah terlalaikan hingga waktu yang berhaga terbuang begitu saja.
9.Mengumpulkan kebaikan
Etika muslim dalam bermedia sosial dengan menjadikannya sebagai sarana pengumpul ilmu dan kebaikan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang memberi teladan dalam agama ini suatu kebaikan, maka baginya pahala setiap orang yang mengamalkannya hingga hari Kiamat tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”
10.Ikhlas
Selalu menjaga keikhlasan menjadi salah satu etika yang harus dilakukan muslimin saat bermedia sosial. Termasuk didalamnya agar tidak memposting sesuatu dengan maksud ria. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mampu merahasiakan amal salehnya, maka hendaknya ia lakukan.” (HR. Al Khatib)
Ibnu Rajab pernah berkata, “Tidaklah seseorang yang ingin dilihat itu mencari perhatian makhluk. Akan tetapi mereka melakukannya akibat kejahilan (kebodohan) diri akan keagungan Sang Khalik.”
Dengan melaksanakan 10 etika ini, maka media sosial yang sejatinya berbahaya dapat menjadi sebuah anugerah bagi manusia. Kemajuan teknologi tentu bersifat memudahkan kehidupan manusia. Namun kemajuan tersebut harus dibarengi dengan ilmu syar’i dan akhlakul karimah. Mari beretika muslim saat memanfaatkan media sosial.

Rabu, 16 Mei 2018

Tatar Pasunda Nu Jadi Jati Diri

1. Tarali Kolot Tatar Pasundan

Jati sunda linuhung kuperbawa nu adil tur wijaksana di aping ku budi pekerti laku buhun nu lungguh timpuh kadali tinu maha suci nu ngancik ka sanghyang Adama nu jadi Ramana manusa, dilungsurken ka sanghyang sita hingga ka prabu cakra buana nu jadi tutugu tanah Pasundan.
 
Di sampurnaken ku pola lampah tinu maha agung, darajatna kamulyaan nu linuwih tina suri katauladanan nu jadi nabi panutup dina akhir jaman syaidina Muhammad nu baris nurunken safa‘at, lumungsur hikmahna ka syeh datu kaffi nu nampi cahaya nur jati nu ngais tindak tanduk nu gumati taliti tur ati – ati ngutamaken tulus ikhlas someah tur ramah tamah.
 
Di sarumsum ku wibawa pajajaran siliwangi nu kakoncara nu mituah rasa silih asah silih asih.Silih asuh jeung papada,nu tandang tur peurtentang dina ngabela lemah cai.
 
Gelar kamulyaan di kagaiban di daratan tutuguna syaidina sulaiman ngancik ka syaidina khidir tatugu kamulyaan di geusan cai nu nurunkeun karamat kawalian sonata jaya, sunda wibawa, sunda nu jadi panyambung gelar laras patra jagat nata.

Pengertian :
“Sebuah karya yang beraneka ragam, yang dijelmakan ke berbagai rupa, dari pada karya leluhur tanah pasundan, dan karya tersebut terlahir dari tuntutan sebuah hikmah dari ajaran islam terdahulu danIslam yang menjadi penyempurna, kita semua mengakui sebelum nabi akhir jaman ada nabi-nabi sebelumnya, yang tentunya para nabi terdahulu masih membawa ajaran ke-islaman, hanya saja isinya lebih memperjelas ketauhidan. disebutlah dengan Islam Buhun, dan diantara keanekaragaman/corak yang disampaikan salah satunya, para leluhur tanah pasundan ada yang melalui fituah dan karyanya isinya lebih mengutamakan rasa persatuan, kesatuan dan kebersamaan dengan budi pekerti dan sikap saling menghormati diantara sesama manusia dalam bentuk pergaulan.
 

2. Akur Jeung Batur Sakasur, Jeung Batur Sadapur, Jeung Batur Sasumur, Jeung Batur Salembur

Sebuah bentuk pituah melalui sebuah tulisan daripada leluhur tanah pasundan, yang selalu dijadikan pupuk dalam pergaulan yang lebih mengutamakan hidup damai dengan setiap orang, di mulai dari lingkungan berumah tangga keluarga sanak family, dalam lingkungan bertetangga dan dalam lingkungan pergaulan yang luas Dan apabila ada hal-hal ketidak selarasan dalam sebuah pergaulan lebih di utamakan mengalah untuk tidak bertentangan dan bisa untuk saling meluruskan.

– Bukti Kapastian (Bukti sebuah kepastian)
Sanajan jauh dina basisir laut, gajah tembong buntutna komo awakna pasti eces rupana. Tapi nu leutik ni leuwih leutik dina awak sakujur salaku aib diri nu bakal jadi lawang hiji cacian nu nagiwurkeun nu ngajadi teu nyidik-nyidik kana eta gajah ngacona jadi ngaca tina eunteung kalangkang nu jadi hiji kapastian.

– Betapa indah sebuah cacian yang mengarah terhadap diri yang penuh aib ini, karena sebuah cacian slalu menyadarkan diri yang tidak berdaya ini, dari segala kekurangan.

Setelah terbuka aib diri seorang insan yang dapat berdaya hanya karena karunia dan rahmat yzng maha kuasa yang memberi kepercayaan untuk hidup dan menjalankan kehidupan ini walau masih tersesat untuk mensyukuri ni’matnya.

Dan dari banyaknya aib diri ini menjadi sangat sibuk untuk melawan rasa kekafiran diri sendiri dari nafsu yang aku tunggangi, sehingga sulit untuk menyempatkan diri untuk memikirkan aib orang lain.

Dan dari kesadaran diri yang masih penuh dengan peluang untuk dicaci, sehingga lebih sadar untuk lebih menghargai orang lain lebih bijak dalam menilai sebuah kesalahan karena kesadaran ini lahir dari sebuah kesalahan diri sendiri. 


3. Pamudar Rasa (Kaciborelangan)
Bismillahi allohu nurus sama wati wal ard, la ilaha illaalloh, Alloh hu rohman nu ngajadikeun wawadah hiruf, nunarima rohmat wujud kuring.
Allohu rohim nu ngahirupken bukti hiruf jisim kuring. Yaa hu pamulihan jisim anu pasti, Yaa Allah pambalikan kuring nu sampurna, nuju sujud sageularan, nuju bakti saguaran, nu pasti masing nimu kapastian, nu sajati bisa numbu thoatillah, nu sumeurah bisa nyipta hiji kapastian, mana nu kuring mana nu jisim, mana nu jisim kuring, mana nu batur kuring, mana nu batur, ya isun panumbu Alloh, yaa Hu, yaaAlloh dzat sampurna.
Sebuah karya yang lebih membina bahwa kita harus bisa menemukan sebuah kebenaran dari setiap apa yang diajarkan dengan kepastian, agar menjadi suatu keyakinan yang dapat menjadi arah yang pasti dan dipastikan oleh akal yang disempurnakan, Sehingga tidak meragukan dan tidak diragukan, bagai cerita segumpal asap lalu dicari dan terlihat dari kejauhan gumpalan asap tersebut tapi belum jelas sebenarnya gumpalan asap tersebut hanya melahirkan sebuah perkiraan saja, lalu didekati gumpalan asap tersebut maka dari situ kita dapat memastikan dengan sebenarnya tentang asap tersebut.

Sehingga sebuah keyakinan yang pasti dari sebenarnya dari yang kita nyatakan maka ke kukuhan dan keteguhan sebuah keyakinan akan kita miliki sehingga kita tidak akan tergoncang oleh sgala bujuk rayu atau ajakan yang tidak pasti, dalam kata lain syifat dari robbiyah dan syabbiyah yang ada dalam jiwa kita mempunyai arah keteguhan. 
 
 
4. Netegken Sifat Khowas Nu Karaih Di Alam Padang Ngajadi Bekel Kalawan Saksi Poe Panjang Nagara Sampurna

Perjalanan yang harus kita tempuh disertai dengan rasa ikhlas dan ketulusan agar menjadi sebuah saksi dari diri manusia.

– Iyya kana budu ; pamuntangan mahluk piken ngaraih bidayah na tina bidayah nu maha pasti nu ngancik dina sir sukma manusa piken muka kamulyaan di poe panjang nagara tunjung sampurna.

– Waiyya kanastai’n, ngalap rohmat nu baris ngajaring tur ngaping sagala upaya nu tulus tur ikhlas tina qodo sinareng qodarna nu Maha Wijaksana, nu jadi bibit pasti nu midaun di alam upaya ngabuah di alam alaeun, Nu matih nu matuh nu sangeut nu seungit, hiber ku jangjangna, ngambah ku guyangna, linuhung, linuwih ku tumarimana. 

– Kalau kita renungkan dengan seksama, begitu banyak corak yang menjadi sebuah bagian daripada kehidupan di dunia ini, dari ciptaan yang maha kuasa dari yang terkecil hingga yang terbesar, dari yang  terlihat hingga yang tidak terlihat sekalipun, Begitu juga dengan segala hal yang di alami dan di rasakan dalam perjalanan yang kita tempuh semua adalah bagian dari hidup mahluk yang menjadi pengisi alam ini.

Pada dasarnya suatu qodo dan qodar yang sudah ditentukan bukan berarti, menginginkan atau tidak menginginkan dengan apa yang sudah menjadi bagian dari hidup ini.

Bagai siang dan malam, bagai hujan dan panas, semua sudah ditentukan tidak satupun mahluk yang sanggup untuk menolak dan mengubahnya, Kita hanya dapat berjalan dikala malam dan dikala siang dengan kesanggupan dan dalam perjalanan tersebut diisi dengan hal kebaikkan dalam arti lain dijadikan sebuah jalan untuk meraih sebuah a’mal kebaikan sehingga perjalanan yang kita tempuh tidak menjadi suatu kesia-siaan dan kerugiaan untuk diri sendiri dari semua mahluq ciptaan yang maha kuasa. 

Begitu juga dengan bentuk sebuah kesusahan atau kesenangan, harta dan tahta juga ilmu pengetahuan hal lain yang menyangkut kemampuan dan kesaktian dan lain-lainnya. Itu semua hanya sebuah alat yang mempermudah untuk melakukan perbuatan sebuah a’mal baik dan perbuatan itu akan kita tinggalkan didunia, hanya dari nilai a’mal baik itu saja yang akan menjadi saksi keikhlasan dan keta’atan.

Jadi dasar dari keselamatan yang abadi itu bukan dari banyaknya ilmu pengetahuan atau kesaktiannya, tapi dari hasil pengalaman yang ikhlas dan dari hasil perbuatannya yang tulus dan tidak terpikir selintaspun dari segala perbuatan baik yang kita lakukan maka perbuatan baik itu akan menjadi sebuah a’mal baik.


5. Seni Budaya
S e n i  : “Lahir tina jiwa sairing jeng irama hate, nu ngajadi aspirasi nurani tina dasarna sir anu baris ngajadi budi sahingga bisa nembus kanu galuh lelembutan sejena, ku halna sa alaman nu aya dina rasana, tur ngajadi panghiap nu tarigtug tutunggulan nu kajadian dina qolbuna, aya oge nu ngajadikeun seni pikun ngahontal rupa-rupa maksud”.

B u d a y a : “Salah sahiji kabiasaan nu lahir nurut kana karakter nu di aspirasikeun piken ngaraih pangraket pergaulan atawa hal anu di pimaksud kunu ngaspirasikeun sir, Piken mere jalan karakter budi nu akhirna ngajadi sabagian tatacara tur ngajelma ngajadi adat istiadat, nu pada akhirna aspirasi nurani sairing jeung karakter budi sahingga ngajadi sir budi nu kacipta nu sajalan rejeng rasa tur di geularkeun ngajadi seni budaya.” 
 
Seni Budaya :  Seni budaya corakna aneka ragam gumantung kanu ngaspirasiken, sir budi cipta rasana, nu salaras kana kaayaan jiwa tur alam dina mangsana.


Islam Jeung Seni Budaya
Seni budaya sanes agama, tapi islam ngagandeng seni budaya pikeun ngajadikeun hiji media pikeun da’wah islam. Kalawan mupuk simbul tina ajaran Islam nuturkeun kana corak budayana masing-masing, nu gampang dikaji tur kukuh dina hal nu dijadiken media, tur seni ngajadi daya tarik piken ngagero nu paling bijak piken awam tur gampang piken ngalarapken tuntunan karena salaras jeung budaya masing-masing, sahingga seni ngajadi hiji tontonan nu ngandung tuntunan, tur eta budaya ngajadi adat nu ngandung makna siki jeung kembang tina tuntunan ajaran keislaman, nu eusina ngangkat kana darajat kamanusaan, tur eta seni budaya ngajadi jalan pangrakeut wujud persatuan nu silih asah, silih asih, tur silih asuh, jeung papada, kalayan ngajadi salaras, sairing, sairama, aya oge sabagian budaya ditetepkeun pikeun ngelingan kana asal usulna jeung lemah caina.

Seni Nu Nyeni
Seni nu nyeni nu beurbudi, nu salaras jeung atikan nu ngandung tuntunan, nu luyu jeung tutugu.

Peseni
Nu sairing dumading, nu ngajirimkeun suri tauladan tina harti seni tur eusi tina jinis tur jirim seni estu nu di pahamkeun tina salah sahiji bidangna ngajirim dina tindak tandukna.

Pengertian :
Seni budaya atau budaya atau adat istiadat bukanlah agama, banyak kemungkinan yang menyangkut hal tersebut : Ada yang menjadi media siar ajaran agama, ada pula yang menjadi media tuk penyampai sebuah tujuan lain yang tentunya beragam jenis dan bentuknya, cara dan artinya, sehingga dari suku-suku bangsa dan dari wilayah-wilayah dari pengisi bumi ini mempunyai sebuah seni dan budaya, sehingga kitapun harus menghormati dari nilai sebuah karya.

Dari itu ada suatu pemisah untuk mengungkap suatu sejarah agar tidak menjadi kesimpang siuran, sehingga tidak bercampur aduk dengan apa yang kita singkap mengenai sebuah karya para leluhur atau peninggalan dari pada leluhur. Pada intinya sebuah karya atau peninggalan daripada leluhur semuanya harus disingkap untuk mencapai sebuah pemahaman dari tujuan-tujuan dari karya-karya dan peninggalan orang-orang terdahulu.

Belum tentu semua suku-suku bangsa dan suku-suku bumi ini mempunyai adat istiadat atau seni budaya yang sama dan arti dan maksud yang sama. Kita sebagai generasi sebagai pewaris sekaligus sebagai pemecah harus betul-betul menjadi generasi yang dapat menjawab karya dan peninggalan, dari generasi-generasi terdahulu Agar apa yang dimaksud menjadi terbuka dan di pahami agar ke depan anak cucu kita dapat memahami dengan segala tujuan yang bersangkutan dengan peninggalan, dengan harapan, kalau sudah dinyatakan suatu karya atau salah satu karya dari peninggalan para leluhur dari generasi- generasi terdahulu yang tersimpan sebuah tuntunan menyangkut agama, keislaman atau hal lain harus kita singkap dengan teliti agar kedepan anak cucu kita memahami dan mempunyai suatu keputusan yang pasti.

Bukan berarti kita harus menghilangkan sebuah karya yang tidak selaras dengan masing-masing suku dan bangsa Tetapi semua harus kita hormati karena sisi lain dengan dapatnya kita saling menghormati sebuah karya antara suku bangsa kita bisa mewujudkan sebuah tali persatuan antar kehidupan sesama manusia.

Dari itu dalam catatan yang aku singkap aku memulai menyingkap dari diri sendiri dari tanah kelahiranku sendiri, dari leluhurku sendiri yang ada di tatar pasundan, dan aku yakin kaitannya akan tersingkap pula sejarah dunia mengenai arti dari sebuah ajaran yang di muliakan dan adat istiadat kata lain seni dan budaya yang ada di setiap suku bangsa dan setiap suku didunia ini, Sehingga kita dapat menyimpulkan dan memisahkan antara yang dimaksud, artinya juga pengertiannya juga sama dengan yang di maksud.

Pengertian lain mengenai seni budaya yang menyangkut sebagai media dari ajaran islam terdahulu (Islam wiwitan) dan ajaran islam sebagai penyempurna, anatau mengenai seni budaya yang menyangkut petuah atau himbauan para generasi terdahulu. Harus mempunyai sebuah nilai yang berbeda dan perlu di jaga untuk dilestarikan dengan sarat harus selalu sampai pemahaman dan arti dari karya tersebut, agar tetap utuh dan dapat ditumpangi hal-hal yang akan menghancurkan sebuah karya para leluhur,  karena karya dari pada leluhur sudah sangat erat dengan adat istiadat dan seni budaya, khawatir ke depan anak cucu kita rapuh dalam menjaga sebuah karya sehingga lepas dan hancur sekaligus hilang adat istiadat yang menjadi ciri tatar pasundan. Akan ku aspirasikan dalam sebuah tulisan dan tulisan ini akan ku jadikan penegur dari diriku sendiri, bukan sebuah cacian atau mengajari karena akupun yakin masih banyak orang yang lebih memahami dengan segala yang ku ungkapkan.

SUKMA JATI SUNDA NGALAYANG NEANG ATI NU SUCI
 
Mana cirina jati sunda
Mana cirina seni nu linuhung
Mana tulisan para pujangga nu ngandung pangjungjung
Mana titinggal ti para wali laku anu gumati
Kantun rupana ilang karamatna
Kantun dongengna ilang darajatna

Titising siliwangi tandang mela ibu pertiwi
Titising ti para wali ajeung pengkuh dina kamulyaan
Tapi ilang geular buktina
Kantun papaes nu sulaya
Jati sunda ganti budaya

Mana trah ratu nu wijaksana
Mana trah pribadi nu gumati
Mana jati sunda nu kakoncara someah tur ramah tamah
Mana ciri cinta leumah cai, salaku bukti ajeun diri
Seni ki sunda kareumpak jujutanna
Urang sunda ilang ageumman na

Titising pajajaran pertentang ngusir nu durjana
Titising sinatria gagah ngabela nusa bangsa
Tapi ilang harga dirini
Tapi ilang ciri ngancikna
Jati sunda ilang pamorna

Waspada tur tarapti bisi katulah pada akhirna
Geura guar jujutan na meh tinu panangkalna.

KASANG TUKANG NANGTUNGNA SUNDA WIWAHA

KASANG TUKANG
NANGTUNGNA SUNDA WIWAHA
Dina ngigelan kamajuan jaman jeung ngaronjatna masalah eksistensi urang Sunda kiwari. ngadegna Paguyuban Sunda Wiwaha tangtuna ngabogaan tangtungan jeung udagan kana ajen inajen pikeun ngeukeuhkeun , nguatkeun jeung mageuhan deui duduluran dina masalah patekadan keur kamajuan urang Sunda.Medalna Paguyuban Sunda Wiwaha dumasar ku ayana greget nu jolna tipara dulur jeung babaturan nu ngarasayen urang Sunda geus asa jadi semah di imah sorangan, hariwang jati kasilih ku junti Ngaran Paguyuban Sunda Wiwaha lain diartikeun saukur wibawa dina pangarti anu lain tapi wibawa dina pangartian anu jembar gumantung dina naon anu jadi ka ahlianna sewang sewangan, da geuning Wiwaha mah mangrupakeun konci dina sagala rupa keur ngamimitian pagawean jadi Paguyuban Sunda Wiwaha nyaeta sakumpulan urang Sunda anu mibanda Wiwaha
TANGTUNGAN
Ajeg panjeg babarengan dina bebeneran nu dibarengan ku gantar Alif nu muntang ka Gusti nu Maha Agung tur anu Maha Jembar pikeun ngahudangkeun deui kasadaran sakabeh kumpulan urang Sunda pikeun aub gumulung ngahiji keur mapag Sunda kiwari, jangler hate jembar dada keur muru poe nu pinuh harepan.
USIK
Usik, rincik, nyaliksik bari ngahiap uar pangajak ka sakumna urang Sunda, nunyunda, nu reueus kana Kasundaana kasaha wae jeung dimana wae pikeun nepikeun jeung nepakeun yen urang Sunda ngabogaan potensi anu leuwih ti batur, Ngadata jeung nganjang silaturahmi, gawe bareng lintas sektoral ka lembaga-lembaga : Kamasyarakatan, tokoh-tokoh masyarakat , tokoh agama, paguron-paguron, group-group Pasundan, seniman, budayawan, ormas, jeung sajabana. Motekar jeung rancage bari milu aub ulubiung dina sagala Lingkungan, Seni, Budaya jeung sajabana